Postingan

Angan Tak Sampai

Quena memutar-mutar pulpen di antara ibu jari dan telunjuknya, pikirannya sungguh tak berada di tempat ini. Koleganya yang sibuk berbincang—sebab ini jam istirahat, tak membuatnya bergerak sedikitpun dari meja kerjanya. Mengejar dead line, itu yang dia katakan pada semuanya, agar tiada yang mengganggunya. Wanita itu terdiam, sesekali tertawa-tawa kecil, begitu melihat tangannya justru menggambar rupa benda melingkar dengan berlian kecil pada intinya. Cincin pernikahan. Quena pikir itu menjadi hal yang paling diinginkan oleh wanita seusianya, membangun sebuah keluarga bersama orang yang kau cintai. Tangannya terhenti, entah mengapa kata cinta sangat mengiris hatinya. Adam, bisiknya. Nama itu masih menjadi nama yang paling membekas dalam hatinya, tidak mungkin tidak. Pikirkan saja, sepuluh tahun bukan waktu yang sedikit. Waktu yang Quena habiskan bersama Adam, yang dulunya selalu menjadi memori bahagia, kini justru berubah jadi memori pahit yang harus dilenyapkan secepatnya. Tidak, Quena...

Mentari Malam

Udara dingin yang menusuk di atas gunung, tidak lagi mematikan tulang karena semuanya pantas untuk kupandang dari sini. Aku terdiam menatap matahari yang tenggelam pada lipatan langit, pendar oranye yang sempurna. Tubuh ini terduduk di antara hamparan rumput liar yang lembab terbungkus embun, gerimis turun beberapa waktu lalu. Dan aku di sini menyiksa diriku dengan suhu yang sangat mungkin memicu hipotermia karena tubuh yang hanya berbalut kardigan tipis berwarna mocha . Haha, tentu saja tidak—tapi aku juga tidak peduli bila itu terjadi.  Bukankah kita harus menemukan sedikit keindahan dalam hidup? Misalnya, dengan menyaksikan sunset thing ini yang ternyata banyak membantu dalam mencegahku untuk melompat dari tumpukan batu terjal di atas sini dan berakhir menjadi risoles berbalut kerikil renyah. Aku berdecak dengan pemikiran itu. Itulah yang terjadi kalau kau berkelana sendirian—ke gunung untuk menenangkan diri, jadi saranku bawalah seseorang. Sial, semuanya jelas sekarang. Aku me...

Jauh

Kuingin pergi jauh Ke arah yang berbeda Merambat pada dinding-dinding kota Menggantung di angkasa Seperti terang t'lah tanggal Bersama gelap yang menyantap Segala harap yang sirna Biarkan menuju kekal

The Strength In Our Scars

You're going to realize it one day—that happiness was never about your job or your degree or being in a relationship.  Happiness was never about following in the footsteps of all of those who came before you; it was never about being like others. One day, you're going to see it—that happiness was always about discovery, the hope, the listening to your heart and following it wherever it chose to go. Happiness was always about being kinder to yourself; it was always about embracing the person you were becoming. One day, you will understand—that happiness was always about learning how to live with yourself, that your happiness was never in the hands of others. It was always about you. It was always about you.

Kue Cokelat Beraroma Natal

Tuva tersenyum begitu bunyi pemanggang berdenting, segera dikeluarkan kue cokelat yang sudah matang itu. Dengan hati-hati dia letakkan nampan di atas meja yang tepat menghadap jalan. Salju turun dengan lebatnya sejak malam Natal dimulai, tapi tak lantas melunturkan semangat orang-orang untuk pergi ke Gereja. Berbalutkan mantel tebal juga penutup kepala, mereka beramai-ramai menjejak salju putih kota Oslo. Tadinya Tuva sempat menelpon Asgrim, kekasihnya yang berada di Tromso, berharap mereka bisa menghabisakan waktu sehari saja bersama, tetapi nyatanya di saat libur Natal pun pekerjaan masih saja menahannya. Walaupun begitu Tuva senang karena mereka masih sempat berbincang melalui panggilan video. Asalkan dapat melihatnya, Tuva sudah senang. Kini kue-kue kering itu sudah berpindah tempat ke dalam toples kaca yang disiapkannya, selanjutnya Tuva bergabung dalam godaan kehangatan yang ditawarkan sofa dan perapian rumahnya. Suasana yang selalu mengingatkannya pada kampung halamannya. Tiap N...

Intent Listening

Gambar
"We don't learn from talking; we learn from listening." That's what the results showed when I typed the key 'listening' on our most popular search engine. And my eyes were instantly saying, "It's easy," but the fact when it comes to practice, our brain finds it troublesome to do. Listening means you take notice of and act on what someone says; respond to advice or a request (Oxford Languages). But when there are friends, loved ones, or just stranger who try to tell us a story about how bad their day was, did we listen? Or we just want to cut it off right away in the middle in order to share our own story? Well, that question will be answered with the research from Lederman (1977) says that although adults spend about 42 percent of their time in listening activities, and children spend about 58 percent of the time in the same activity. It goes without saying that listening intently to a person is one of the most important issues facing us today. T...

Perjalanan Menemukan Diri Sendiri

Bila orang mengatakan bahwa mengenal orang lain itu sulit.. biar kuberi tahu apa yang lebih sulit dari itu, "mengenali diri sendiri". Mengenal orang lain terasa lebih mudah sebab kita dapat bertanya langsung untuk mengetahui apa yang disukai atau apa yang tidak disukai oleh orang tersebut, tetapi diri sendiri? Bila kita pun tidak tahu apa kesukaan atau ketidaksukaan kita, lantas hendak bertanya pada siapa? Hidup kita tentu tidak dimonitor selama 24 jam oleh seseorang. Kemampuan untuk mengenali diri sendiri adalah satu kemampuan yang harus dimiliki semua orang yang berguna untuk mengenali arah kehidupan pribadi masing-masing. Namun, tidak semua orang ahli dalam melakukannya karena beberapa dari kita mungkin telah kehilangan diri sendiri sejak lama. Ingin pergi ke satu tempat, membeli suatu barang, memilih jurusan kuliah, sampai keputusan penting seperti memilih profesi telah kita serahkan pada orang lain. Kita tidak bisa melakukannya secara mandiri tanpa bantuan orang lain. Al...