Postingan

Negative Pride

Gambar
Keberhasilan telah membuat banyak orang tersesat dalam lautan kesombongan. Merasa diri yang paling benar, baik, pintar, kaya sampai lupa bagaimana dirinya yang dulu sebelum mencapai keberhasilan saat ini. Memang betul hal tersebut kamu raih sebagai hasil dari kerja kerasmu, tetapi itu tak serta merta membuatmu dapat merendahkan orang lain, apalagi mereka yang di waktu tersulitmu ada untuk menolongmu. Begitu mudah untuk lupa, begitu mudah untuk menjatuhkan orang lain jika mata kita sudah tertutup dengan banyaknya yang kita miliki. Yang sebenarnya kita tahu itu bukan sesuatu yang abadi. Wajah rupawan, kekayaan melimpah, jabatan tinggi, dan segala hal lainnya merupakan harta duniawi. Sadarlah wajah akan mengkerut oleh usia, harta dapat habis, jabatan tak selamanya bisa diduduki. Lalu untuk apa kamu mengejar itu semua secara berlebihan? Menjadi tak pernah puas dan menganggap diri paling superior di antara manusia lainnya. Mungkin kamu belum pernah bertemu dengan seseo...

Pulang ke Rumah

Gambar
Orang-orang bingung melihat tingkahnya, mengapa dia tak pernah berucap sapa pada siapa yang lewat atau bahkan duduk di hadapannya. Mulutnya terkunci rapat. Rembulan cokelat muda itu menatap kosong di seberang ketinggian, kakinya menjuntai-juntai di sisi jembatan. Apakah yang akan berubah jika dia berbicara? Dia tak melihat terang dalam pemikirannya. Raga itu telah menelan bulat-bulat kunci pada bibirnya sejak lampau. Yang mereka tahu anak itu hanya seorang pecundang yang diam akan hidupnya. Meski mereka tak tahu bagaimana dia tengah berlari kencang dari bayang-bayang yang gemar mengganggu tidur malamnya. Hanya saja kadang dia kelelahan untuk terus berlari, sehingga dia harus menepi disini, duduk sendirian di bawah pendaran lampu petromak setiap malam. Dingin angin malam dan kehijauan yang perlahan menghitam adalah obat penangkalnya. Semuanya begitu egois, termasuk dirinya sendiri. Kini dia mengerti bagaimana sulitnya memahami keadaan seseorang. Namun, terkadang it...

Laut

Gambar
Lautan itu berisikan berbagai macam yang bernyawa. Segala makhluk hidup berkumpul di bawah sana, akan tetapi mereka tidak menyadari keberadaanku yang tengah melayang di air yang sama. Mampu berenang tak serta menjadikanku bagian dari seluruh komponen laut itu karena di situ bukanlah tempatku. Kemana aku harus melangkah, petunjuk pun belum kutemukan. Lalu kulihat sebuah bayangan menutupi mentari, sinarnya meredup di mataku, menyatu dengan kebiruan yang kelam. Ada tangan yang terjulur menggapaiku, menaikkanku ke atas perahu layar yang lebar. Ajaib! Rupanya inilah yang selama ini aku cari. Sebuah tempat yang menerimaku, sebuah tempat untuk menapak, dimanapun asalkan tidak sendirian. Di atas kapal ini, kutemukan beberapa insan sepertiku. Berpijak yang sebelumnya kuanggap asing, ternyata tidak buruk juga. Insan yang sama denganku, menghirup angin segar lautan. Insan yang berbicara pada isyarat yang kumengerti. Kutolehkan lagi penglihatan pada gelombang tenang itu, di sanalah tempat lahirk...

Sang Dewa

Gambar
Kamu adalah badai yang menerpa hidupku Dengan kekuatanmu, kau memporak-porandakan segalanya Hatiku yang kau miliki, kau genggam kuat Membuatku sesak menginginkan lebih Hancurkan aku, hancurkan saja! Akan kuberikan segala rasa, tubuh, dan jiwa ini Cecaplah dan remukkan! Sampai kau sadar segala pengorbanan Hingga jadi serpihan, kau tetap yang kupuja Walau matahari sirna sekalipun Dan alam meneriakkanku untuk pergi Kau akan tetap jadi kesakitan yang kunikmati Kau, sang dewa Bali, 31 Januari 2020 . . Sumber gambar : Pinterest

Jatuh Cinta

Gambar
Terbangun kala mentari mengintip di celah gorden kamarku, duniaku berputar seperti orang pusing. Namun, aneh, yang ini tidak memberikan efek sakit sama sekali, tubuhku justru seperti habis mengonsumsi heroin. Malah, ada rasa menggelitik di perutku. Mungkin karena kamu. Aneh, sangat aneh. Aku jadi melamun. Semenjak hadirmu, hari yang tadinya ingin selalu kulalui dengan cepat, kini ingin kugenggam agar bisa lebih lama bersamamu. Duduk berdua dalam kereta sambil mendengarkan lagu indie kesukaanmu, aku tak mau beranjak. Meski selera lagu kamu dan aku berbeda, aku tetap duduk mendengarkan. Padahal aku tidak perlu repot-repot mendengarkan, bisa saja mengambil ponsel dan mendengarkan lagu upbeat favoritku. Namun, aku di sana. Keanehan pertama. Jatuh cinta itu juga membuatku berubah, denganmu aku bisa menjadi orang yang terbuka. Aku tak segan menjadi diriku sendiri, bersifat layaknya anak kecil, sisi manis diriku yang jarang terlihat. Bersamamu, semua pahit yang tadinya kusimpan sendiri, ...

365/365

Gambar
Jatuh bangun terjadi di tahun ini, sesuatu yang kau alami setiap hari, setiap detik saat masih bernapas. Bergantinya angka di kalendermu bukan menjanjikan ke depannya akan baik-baik saja, tetapi ada harapan baru yang terbentuk di depan sana. 2019, boleh jadi kau menangis, meronta akan keadaan yang membuang wajahnya padamu. Tidak, itu jawaban yang diberikan. Kita semua gagal di tahun ini. Kau dan aku mendapat jatah gagal untuk diproses. Kehilangan orang yang dicintai, masih menjadi pengangguran, cinta yang tak berbalas, belum memiliki anak. Porsi kegagalan sudah menghampiri piring kita di tahun 2019. Namun, hari ini janganlah kau bersedih. Sebab, genanp tiga ratus enam puluh lima hari kau telah mampu melewati segalanya. Ombak-ombak, juga kerikil tajam yang mengisi jalanmu. Sejauh itu kau telah berjalan bersama yang terkasih, mereka hadir ketika kau tertunduk tak berdaya. Tiga ratus enam puluh lima hari yang juga berisi senyum dan tawa. Memori-memori kebahagiaan yang sempat terbentuk...

Pria Hujan

Gambar
Langit menangis di bulan Desember, menjadi mesin waktu yang membawaku kembali pada kenangan. Dalam hening keramainan aku mengamini apa-apa yang pernah mereka katakan, bahwasanya tidak semua cinta perlu diraih, digenggam, lalu disimpan dalam kotak kaca. Setelah obrolan kita di cafe sore itu, aku kembali pada kebiasaan lamaku, duduk menyendiri memandangi rintik hujan dari etalase cafe. Aku memang pernah bersedih atasmu, pernah menangis meraung karena jawaban takdir yang tak sejalan. Namun, hari ini aku hanya rindu pada kenangan kita.  Embun kemudian terbentuk di pinggiran cangkir teh yang kupesan, kutopang dagu menatap kursi kayu di depanku. Mataku mengerjap begitu sosok yang paling kukenal memainkan sedotan di lipatan bibirnya yang manyun. Lucu. Bukan dirimu, sebab dirimu lebih dari itu. Akan tetapi, mendapati diriku duduk kembali di tempat biasa kita bersama, nyatanya mampu jadi portal ajaib yang memanggil visualmu datang dalam ingatan. Pria hujan, begitu aku menyebutmu. Terlepas...